Sabtu, 14 Mei 2011

E - WASTE

Electronic waste atau singkatnya disebut e-waste adalah istilah untuk sampah barang-barang elektronik (dan barang yang menggunakan aliran listrik), seperti ponsel bekas atau teve rusak yang dibuang. Pemakaian benda elektronik yang meningkat pesat, mengakibatkan sampahnya pun bisa menjadi berlipat-lipat. Bahkan, menurut United Nation Environmental Program (UNEP), sampah elektronik dunia mencapai angka 50 juta ton per tahun!
                Secara khusus, negara kita mendapat tugas besar mengenai electronic waste ini. Karena, masyarakat Indonesia dikenal cukup konsumtif dalam belanja gadget. Selain itu, banyak pula gadget yang masuk secara illegal, sehingga agak susah melacak jumlah banyaknya perangkat elektronik yang beredar di masyarakat. Satu lagi, ternyata Indonesia juga menjadi negara tujuan e-waste! Maksudnya, sampah elektronik dari negara lain dikirim ke Indonesia, yang menjadikan e-waste kita semakin menimbun. Jadi, apa yang akan kita lakukan, waste it or do something about it?

Waste It
Apa akibatnya jika kita membuang peralatan elektronik yang rusak atau sudah tidak terpakai? Nyatanya, banyak sekali kerusakan yang ditimbulkan sampah elektronik, diantaranya :
1. Sampah tersebut tidak terurai, jadi akan terus menumpuk. Bayangkan saja, menurut estimasi EPA, tiap tahunnya, sampah elektronik akan bertambah hampir 100%!
2. Polusi tanah yang ditimbulkan e-waste, selain merusak kesuburan tanah juga mematikan makhluk hidup di dalamnya.
3. E-waste juga bisa mencemari air.
4. E-waste mengeluarkan zat kimia beracun seperti mercury, chromium, PCBs, dan lainnya yang bisa mengganggu fungsi otak, syaraf, liver, dan sebagainya. Efeknya baru terasa sekitar 5-10 tahun. Fatal sekali, bukan?

Manage It
Bukan berari kita harus menghentikan penggunaan gadget dan berbagai peralatan elektronik lainnya. Namun, baik pemakai maupun produsen harus bertanggung jawab dan mulai memikirkan langkah untuk me-manage e-waste, seperti :
1. Tidak membeli barang elektronik yang mubazir, seperti punya handphone lebih dari satu padahal kita tidak benar-benar membutuhkannya. Atau berganti-ganti gadget karena tren.
2. Produsen juga harus memiliki wadah untuk mengelola e-waste dari  produk mereka.
3. Pilih produk elektronik yang ramah lingkungan, seperti terbuat dari bahan daur ulang. Hal ini cukup efektif mengurangi e-waste.
4. Kunjungi tempat daur ulang e-waste di sekitar kita, seperti tempat recycle CD dan baterai di Tobucil (Jl. Aceh Bandung) atau Sekolah Cikal (Jl. T.B. Simatupang Jakarta). J

ref : Majalah Gadis - Tisam

0 comments:

Posting Komentar

your comment, please.. thank you ;)